Minggu, 26 Mei 2013

Kita bertemu karena sebuah kebetulan. Di sebuah tempat dimana saya sering menertawakan waktu dengan teman-teman. Dan sekarang menjadi tempat dimulainya kenangan kita. Kenangan yang tercipta dengan berbagai kemasan. Tapi yang paling membuat saya senang adalah ketika saya bisa melihat langsung matamu saat kita saling bertatapan. Sampai sekarang saya mencoba mengartikan tatapan itu. Apakah tatapan itu berarti kamu merasakan rasa yang sama saat saya melihatmu?

Perkenalan kita terlalu instan. Kedekatan kita membuat saya merasa bahwa kamu lah yang saya cari selama ini. Saya mulai membangun mimpi dan harapan agar tak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Tapi saya takut kalau kamu hanya merasakan ketertarikan sesaat. Karena saya merasakan sayang yang begitu dalam, sehingga saya begitu sedih saat kamu memilih pergi dan mengakhiri hubungan kita.

Saya menikmati kebersamaan kita, kebersamaan yang terjalin lewat handphone. Perhatian dan kemesraan sering kamu selipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan itu dan membuat saya banyak berharap. Saya merasa kamu punya perasaan yang serius. Iya, saya salah, harapan saya menembus langit. Harusnya saya berfikir wanita seindah kamu tak mungkin menaruh hati pada pria seburuk saya.Tapi, kamu terus membawa saya ke jalan terang. Jalan yang saya fikir itu adalah tujuanmu. Saya terus mengikuti jalan tersebut. Dan saya mulai mencintaimu. Namun terlalu sederhana menyebutnya cinta.

Kamu memilih pergi dengan alasan yang benar-benar tak bisa saya pahami. Kamu pergi saat saya mulai menyayangimu dan ingin terus memperjuangkan hubungan kita. Semua terjalin hanya tiga minggu dan itu terlalu singkat! Kamu pergi saat saya mulai menyadari kalau kita saling cinta. Banyak alasan yang membuat saya berfikir kalau kamu juga cinta saya.

Kini saya melewati hari yang berbeda, tak ada lagi kamu dan perhatianmu. Rasa sakit ini mungkin melebihi rasa sayangmu. Kamu menindas saya dengan segala kesalahan saya. Dan seakan-akan kamu lupa kalau kita pernah saling berkata sayang. Saya ingin tau alasan kamu pergi, karena sungguh alasanmu untuk sendiri sangat tidak logis di fikiran saya. Apa saya terlalu brengsek untuk wanita sebaik kamu?

Saya termenung dalam basuhan air mata. Menikmati setiap jengkal kesakitan yang menyayat hati. Kepergianmu sudah cukup membuat saya paham kalau saya salah berharap terlalu tinggi.

Tak ada yang menginginkan perpisahan,. Tapi kamu memilih untuk berpisah. Kita belum saling membahagiakan, tapi mengapa kamu inginkan perpisahan, Sayang?